The Powerful “Kingdom of Girls”

 

KK1
Ibapyntngen in the cottage. (Karolin Klüppel)

Mawlynnong is about 90 kilometres from the capital of Meghalaya, Shillong, India. Mawlynnong is over hundred years old, keeping the surrounding environment clean an age old tradition. The society is matrilineal making women economically powerful. The Khasi trival inhabitans are known to be worshippers of nature which make them the main occupation of the villagers is agriculture.[1]

KK2
Wanda on the stairs to the treehouse, 2013. (Karolin Klüppel)

This Discover India Magazine declared the village as the cleanest in Asia in 2003, brought a Berlin-based photographer, Karolin Klüppel was travelled to india to document the phonemenon – tribes in the east Khasi Hills, Mawlynnong is located home to just 95 houses and a population of around 500.

KK3
Yasmin, playing at the river, 2014. (Karolin Klüppel)

In the Khasi tribe, when the youngest daughter inherits the family’s wealth and property, which men rarely own. The system also dictates that children take their mother’s surname and once a man marries, he lives in this mother-in-law’s home. A family with only sons is considered unlucky, Klüppel reports.[2]

KK4
Grace with dry fish, 2013. (Karolin Klüppel)

KK5
Grace in my dress, 2014. (Karolin Klüppel)

“To Disrespect a woman in this culture means to harm the society. Daughters are often more wanted than boys, and a family with just sons is considered to be miserable, because only daughters can assure the continuity of a clan.” Klüppel said in a statement to In Sight and Violet[3] magazine.

KK7
Ibapyntngen, playing, 2013. (Karolin Klüppel)

KK8
Steam, 2013. (Karolin Klüppel)

Karolin Klüppel saw this inverted world of herself. For nine months spanning two years lived with different Khasi families.

Klüppel says some, upset by their second-class status, are calling for gender equality. But mostly she was struck by “the respect that Khasi men have for women,” which is at the heart of this photo series. “I want everyone to know about cultures that are different from the patriarchal world we live in – and I want people to question that system.”[5]

KK9
Phida with balloon, 2013. (Karolin Klüppel)

Di Pasar

img_8856

Yang ia tau, ikan akan terlihat bagus ketika bersama-sama di dalam tangki gelas berhiaskan tanaman plastik (agar tidak cepat mati, katanya) seperti di rumah Kakek dan tidak lupa isi ikan sapu-sapu. Kakek mencurigai, ia pasti malas membersihkannya seminggu sekali.

“Nyo, tau tidak? Tidak semua ikan harus bersama, ada ikan yang tidak bisa digabung dalam satu tempat. Ikan ini kecil dan mandiri, kamu pasti suka juga tidak repot ngurusnya. Dan tidak perlu ikan sapu-sapu!” Kakek tertawa.

Setelah dua puluh empat tahun ia kembali ke tempat ini. Untuk mengingat akan Kakeknya yang pertama kali mengenalkan ia pada arti menjadi indah karena berdiri sendiri.


img_8855

Sore itu ia kembali ke rutinitasnya. Naik bus kota dari arah Matraman ke stasiun Jatinegara. Melantunkan lagu yang pertama kali ia kenal dari adegan film Dono dan Sang Kekasih-Madonna di TV dulu.

“Kalaulah memang kita berpisah
itu bukan suratan
mungkin ini lebih baik
agar kau puas membagi cinta
Pulangkan saja
aku pada ibuku atau ayahku…”

Orang-orang duduk melamun menatap jalanan yang ramai, berharap cepat sampai di tujuan. Kali ini ia turun sebelum menyelesaikan pertunjukan tunggalnya.

Ia ingat dulu Ayahnya sempat bercerita tentang lumut ketika mereka pergi ke pasar untuk membeli umpan ikan. Kata Ayah; lumut bisa tumbuh dan hidup tanpa faktor pendukung, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan apapun. Apapun, tegasnya.

Setahun setelah TV baru Ayah datang, ia ditinggal pergi. Hingga kini adegan film Warkop DKI itu menjadi penyambung hidup, pikirnya. Ia pun tersenyum, menunggu bus kota berikutnya berhenti di depan pasar.


img_8857

“Sialan! Tadi gue hampir ditabrak mobil!”
Pesan terkirim.
“Dia bales chat gue! Besok musti ganteng!”
Pesan terkirim.
“Tadi si Kepala Botak ngusir gue dari kelas!
Bodo gue juga ga butuh dia!”
Pesan terkirim.
“Asli, gue laper. Males keluar jam segini,
gak ada lo sih.”
Pesan terkirim.

Satu plastik transparan berisikan empat ikan kecil diletakkan di kasurnya. Ibu bilang tadi si sahabat datang, ini agar ia ada teman, jadi tidak lagi merasa kehilangan dua adik barunya sekaligus. Jangan ada alasan menjadi cengeng untuk tidak masuk sekolah. Karena ia sudah diberikan empat ikan sekaligus untuk menemani harinya di rumah, pesan si sahabat.

“Dimana sih lo? Gue butuh lo sekarang! Bales oi!”
Ia mengirim pesan lagi – mungkin – pertanyaan.

Dua tahun lalu waktunya si sahabat pergi untuk selamanya, yang selalu memberi lebih, untuk tidak merasa kurang. Yang ada tanpa harus mengada. Walaupun kadang keadaan ingin menyerah, ia akan selalu ingat kalau sahabatnya akan selalu ada.


Pasar Jatinegara – January 2017

Dapur Babah

Thoughts

“As we live in the nowadays consciousness of human rights. considering everything into self righteous, feeding the needs of what we show, see and feel regarding to the Internet timeline of creating new order of world; politics versus religions – someone else’s Instagram post versus aesthetic taste maintains its image word by word, composition, pallete and whatnot. completely complex – perfectly hidden by its fortunate plan.”


Dapur Babah EliteDecember 2016

Jakarta night will always catch a mood, TUGU Group is one of the best place to have an authentic Indonesian-peranakan-dine and for my afternoon coffee with Indonesian Heritage ambiance. Dapur Babah Elite is my favorite one beside Lara Djonggrang.