Di Pasar

img_8856

Yang ia tau, ikan akan terlihat bagus ketika bersama-sama di dalam tangki gelas berhiaskan tanaman plastik (agar tidak cepat mati, katanya) seperti di rumah Kakek dan tidak lupa isi ikan sapu-sapu. Kakek mencurigai, ia pasti malas membersihkannya seminggu sekali.

“Nyo, tau tidak? Tidak semua ikan harus bersama, ada ikan yang tidak bisa digabung dalam satu tempat. Ikan ini kecil dan mandiri, kamu pasti suka juga tidak repot ngurusnya. Dan tidak perlu ikan sapu-sapu!” Kakek tertawa.

Setelah dua puluh empat tahun ia kembali ke tempat ini. Untuk mengingat akan Kakeknya yang pertama kali mengenalkan ia pada arti menjadi indah karena berdiri sendiri.


img_8855

Sore itu ia kembali ke rutinitasnya. Naik bus kota dari arah Matraman ke stasiun Jatinegara. Melantunkan lagu yang pertama kali ia kenal dari adegan film Dono dan Sang Kekasih-Madonna di TV dulu.

“Kalaulah memang kita berpisah
itu bukan suratan
mungkin ini lebih baik
agar kau puas membagi cinta
Pulangkan saja
aku pada ibuku atau ayahku…”

Orang-orang duduk melamun menatap jalanan yang ramai, berharap cepat sampai di tujuan. Kali ini ia turun sebelum menyelesaikan pertunjukan tunggalnya.

Ia ingat dulu Ayahnya sempat bercerita tentang lumut ketika mereka pergi ke pasar untuk membeli umpan ikan. Kata Ayah; lumut bisa tumbuh dan hidup tanpa faktor pendukung, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan apapun. Apapun, tegasnya.

Setahun setelah TV baru Ayah datang, ia ditinggal pergi. Hingga kini adegan film Warkop DKI itu menjadi penyambung hidup, pikirnya. Ia pun tersenyum, menunggu bus kota berikutnya berhenti di depan pasar.


img_8857

“Sialan! Tadi gue hampir ditabrak mobil!”
Pesan terkirim.
“Dia bales chat gue! Besok musti ganteng!”
Pesan terkirim.
“Tadi si Kepala Botak ngusir gue dari kelas!
Bodo gue juga ga butuh dia!”
Pesan terkirim.
“Asli, gue laper. Males keluar jam segini,
gak ada lo sih.”
Pesan terkirim.

Satu plastik transparan berisikan empat ikan kecil diletakkan di kasurnya. Ibu bilang tadi si sahabat datang, ini agar ia ada teman, jadi tidak lagi merasa kehilangan dua adik barunya sekaligus. Jangan ada alasan menjadi cengeng untuk tidak masuk sekolah. Karena ia sudah diberikan empat ikan sekaligus untuk menemani harinya di rumah, pesan si sahabat.

“Dimana sih lo? Gue butuh lo sekarang! Bales oi!”
Ia mengirim pesan lagi – mungkin – pertanyaan.

Dua tahun lalu waktunya si sahabat pergi untuk selamanya, yang selalu memberi lebih, untuk tidak merasa kurang. Yang ada tanpa harus mengada. Walaupun kadang keadaan ingin menyerah, ia akan selalu ingat kalau sahabatnya akan selalu ada.


Pasar Jatinegara – January 2017

Author: timurbiru

City walker capturing some stories.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s